LAPORAN UJIAN KOMPETENSI SMK JURUSAN PERIKANAN
LAPORAN HASIL UJIAN KOMPETENSI KEAHLIAN
AGR.PERIKANAN
![]() |
OLEH : RUSTAM FIKAR
KELAS : XII PERIKANAN
SMK-PP NEG. REA TIMUR
T.P 2015-2016
LAPORAN HASIL
PRAKTEK UJI KOMPETENSI
![]() |
OLEH:
·
RUSTAM FIKAR
Merupakan Salah
Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi Pada
SMK-PP Negeri
Rea Timur
Laporan ini
telah diperiksa dan disahkan oleh:
Pembimbing Eksteren Pembimbing Interen
Arifuddin Muswel,S.Pi, M.Adm.KP Ir.Nurhidaya, M.Si
Nip: Nip
: 19691012 200701 2 026
Mengetahui:
Kepala Sekolah SMK-PP Negeri Rea Timur Ketua jurusan
Mulyadi S.Pd, M.Pd Rizal
alamsyah Z,S.kel
Nip: 19691231 199412 1 071 Nip
:
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah swt, yang telah memberikan karunia dan hidayahnya, Salawat dan salam tak lupa pula kita kirimkan
syalawat dan salam kepada Nabiullah Muhammad saw beserta sahabat dan
keluarganya. Sehingga penyusunan laporan
ini dapat terselesaikan. Terima kasih juga saya ucapkan kepada :
1. Ibu Ir.Nurhidayah
2. Bapak Rizal Alamsyah Z, S.Kel
3. Bapak Arifuddin
4. Ke dua oang tua saya.
5. Dan pihak lain yang tidak tercantum namanya.
Penulis menyadari masih banyak kesalahan yang
terdapat dalam penulisan laporan ini.Maka dari itu saya sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun guna memperbaiki kesalahan saya.Dan
jika ada kata kata yang salah saya memohon maaf yang sebesar besarnya.Sekian.
Penulis
A.
Pengertian Ikan Nila
Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari
Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan
peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di
setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus,
dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.
B. Pengukuran Kualitas Air
a. Suhu airdan
oksigen terlarut
Menurut (Carman, O
dan Sucipto, A 2009) ikan mempunyai batas toleransi suhu tinggi dan rendah
serta suhu optimal untuk pertumbuhanya, inkubasi telur, konversi pakan, dan
resisitensi penyakit tertentu. Batas optimum dari suhu
berbeda-beda, tergantung dari faktor lain, seperti pH, tekanan ogsigen,
ketinggian, kedalaman air, dan cuaca. Kondisi suhu ini akan sangat berpengaruh
bagi kesehatan ikan pada kondisi normal maupun pada saat pengobatan ikan.
Suhu lethal (mematikan) untuk hampir semua spesies ikan adalah 10-110 C
selama beberapa hari. Nafsu makan ikan akan terganggu ketika suhu di bawah
16-170 C. kemampuan reproduksi akan mengalami penurunan pada suhu di
bawah 21 0C. Hal ini
berkaitan dengan metabolisme dan aktivitas ikan yang dibudidayakan. Suhu air
optimal untuk pertumbuhan ikan nila adalah 28-32 0C. Namun demikian,
tidak menutup kemungkinan ikan yang dibudidayakan juga mampu beradaptasi dengan
suhu apabila oksigen terlarut sesuai dengan kebutuhannya.Alat pengukur suhu
adalah thermometer.
Oksigen terlarut (Do) adalah kandungan oksigen yang ada dalam air Do yang
baik untuk ikan adalah berkisar antara 5 – 8. Untuk mengukur Do di gunakan alat
Do meter. (Carman, O dan Sucipto, A 2009)
b.
pH
Menurut (Carman, O dan Sucipto, A 2009) nila dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik pada lingkungan perairan dengan alkalinitas rendah atau
netral.Pertumbuhanya mengalami penurunan pada lingkungan dengan pH yang
rendah.Namun demikian, nila masih dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH
5-10.Batas pH yang mematikan adalah 11 atau lebih. Sebaiknya pH air
diperhatikan pada nilai netral atau pada kisaran 6,5 – 8,0. Alat pengukuran ph
adalah ph meter.
C.
Pemijahan dan pembenihan
Kolam
pemeliharaan indukan,
kolam ini diperuntukan bagi indukan ikan Nila. Ukuran dari kolam ini tidak
terbatas, hanya saja dibuat sekurang-kurangnya berukuran 6 meter persegi, dan
untuk menghindari terjadinya kawin maling atau pemijahan secara masal yang
tidak terkendali, maka diupayakan pemeliharaan atara indukan jantan dan betina
di kolam yang berbeda.
Kolam
pemijahan, kolam
ini berfungsi untuk memijahkan atau mengawinkan ikan Nila indukan jantan dan
indukan betina. Ukuran dari kolam pemijahan ini berpariasi, mulai dari 2 meter persegi hingga 4 meter
persegi tergantung pada jumlah dan ukuran indukan yang dipijahkan.
Kolam
pemeliharaan larva,
kolam ini berfungsi untuk memelihara larva ikan yang diambil dari kolam
pemijahan, setelah indukan betina selesai mengerami telur yang telah dibuahi.
Kolam
pembesaaran/pendederan, kolam ini berfungsi untuk memelihara ikan mulai dari
ukuran burayak setelah fase larva hingga ukuran bibit 10-12 cm yang siap
dipanen atau dipasarkan sebagai bibit unggul yang akan dibesarkan oleh para
pembudidaya pembesaran ikan Nila.
Proses
Pemijahan
Pemilihan
Induka Ikan Nila
Calon
indukan untuk pembenihan ikan Nila harusnya memiliki jalur genetis yang jelas
dan memiliki sifat-sifat yang unggul. Indukan yang unggul akan menentukan benih
yang berkualitas dan memiliki pertumbuhan yang cepat. Upayakan sebelum
melakukan pemijahan anda seleksi terlebih dahulu keunggulan dari indukan nila
anda agar tidak mengecewakan. Ciri-ciri dari indukan unggul adal sebagai
berikut:
- Gerakan lincah, agresif, dan sangat merspon saat diberi pakan
- Kondisinya sehat, tidak cacat, dan bentuk badanya normal
- Memiliki sisik yang tersusun rapid an besar-besar
- Memiliki badan yang tebal dan lebar, warna sisik cerah dan mengkilau dan
- Merupakan jalur keturunan genetis unggul yang berbeda
Ikan
Nila mulai bisa dipijahkan saat berusia 5-6 bulan, dengan farietas bobot
indukan betina 200-250 gram dan 250-300 untuk indukan jantan. Masa
produktivitas ikan nila mencapai 1,5-2 tahun dengan jumlah telur sekali pijah
berkisar antara 500-1000 butir. Setelah melakukan pemijahan, indukan ikan nila
baru bisa dipijahkan atau baru akan matang gonad setelah 3-6 minggu.
Proses
Pemijahan ikan Nila
Ikan
Nila akan memijah seminggu atau hari ketujuh
setelah indukan Ikan Nila ditebar di kolam pemijahan. Proses pemijahan
akan terjadi secara masal setelah indukan jantan dan indukan betina bertemu dan
saling cocok, maka perkawinan akan terjadi pada saat itu. Umumnya indukan ikan
Nila ditebar dengan perbandingan 1:3 yakni 1 indukan jantan dan 3 indukan
betina. Kepadatan tebar 1 ekor/ meter persegi dengan bobot indukan berkisar
200-300 gram.
Diminggu
ke-7 umumnya akan terjadi pemijahan, indukan betina akan mengeluarkan telur dan
sang pejantan akan membuahi. Setelah proses pembuahan oleh indukan jantan
selesai, maka indukan betina akan memasukan seluruh telur yang telah dibuahi
kedalam mulutnya untuk dierami. Biasanya proses pengeraman ini akan berlangsung
selama seminggu setelah pembuahan, dan pada saat pengeraman indukan betina akan
berpuasa sampai telur menetas dan berubah menjadi larva ikan.
2
minggu setelah penebaran indukan dikolam pemijahan, anda akan melihat larva
ikan Nila berkelompok-kelompok dipinggir kolam pemijahan dengan warna yang
terang kemerahan, segera ambil larva tersebut dan pindahkan kedalam kolam
pemeliharaan larva.
Seminggu
setelah penebaran lakukan penekanan/pengurangan bahan pakan bagi indukan ikan
Nila, karena diketahui bahwa diwaktu-waktu itu indukan ikan Nila betina banyak
yang berpuasa/tidak makan selama proses pengeraman telur.
Pemeliharaan
Larva
Setelah
telur ikan Nila menetas dan menjadi Larva, maka Larva tersebut akan dipelihara
dikolam pemeliharaan dengan kepadatan tebar 50-200 lekor/meter persegi.
Kontruksi kolam bisa berupa kolam tembok maupun kolam terpal.
Pemberian
pakan bisa berupa kuning telur yang direbus dan dilarutkan kedalam ½ liter air
dengan frekuensi pemberian pakan 5 kali dengan konsentrasi 100 ml dalam sekali
pakan. Selain kuning telur, alternative pakan lain bisa berupa tepung ikan
dengan kadar protein diatas 40 % dengan frekuensi 1 sendok makan sekali pakan.
Pemeliharaan
di kolam pemeliharaan ini akan berlangsung selama 3-4 minggu setelah larva
berubah menjadi burayak dengan ukuran 2-3 cm. diukuran ini, burayak harus
segera dipindahkan ke kolam pendederan karena kolam pemeliharaan tidak lagi
mampu untuk menampungnya karena sudah terlalu padat.
Catatan: untuk keperluan budidaya
pembesaran ikan Nila agar tidak terjadi perkawinan masal di kolam pembesaran,
bibit ikan Nila bisa dibuat berjenis kelamin pejantan secara keseluruhan (monosex). Karena diyakini bahwa bibit
ikan Nila jantan memiliki pertumbuhan yang jauh lebih cepat jika dibandingkan
ikan Nila betina. Caranya : pada saat pemeliharaan larva, bisa menambahkan hormone 17 alpha methyltestosteron pada
pakan larva ikan Nila selama ± 17 hari, ini akan menjadikan bibit ikan Nila 95%
lebih berjenis kelamin jantan.
D. Pendederan
Pendederan benih adalah
pemeliharaan benih ukuran lepas induk (impukan) yaitu kebul yang berumur 5 – 7
hari sampai ukuran siap tebar untuk pembesaran yang berbobot 100 g/ekor.(Tim Karya Tani Mandiri, 2009)
Benih yang telah berumur tujuh hari dipindakan ke kolam
pendederan agar benih mendapatkan makanan alami didalam kolam pendederan
seperti fitopelankton, zooplankton dan lain sebagainya, agar pertumbuhannya
sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jumlah larva yang di tebar sebanyak 400
ekor dari hasi 2 ekor induk yang telah di pijahkan dan penghitungan larva yang
penulis lakukan mengunakan cara penghitungan keseluruhan (satu persatu).
Dikarenakan jumlah larva tidak terlalu banyak, maka dari itu dilakukan
perhitungan keseluruhan.
E. Kultur artemia
Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum
Arthopoda. Mereka berkerabat dekat dengan zooplankton lain seperti copepode dan
daphnia (kutu air). Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada
di seluruh dunia.Udang ini toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas,
mulai dari nyaris tawar hingga jenuh garam.Secara alamiah salinitas danau
dimana mereka hidup sangat bervariasi, tergantung pada jumlah hujan dan
penguapan yang terjadi. Apabila kadar garam kurang dari 6 % telur artemia akan
tenggelam sehingga telur tidak bisa menetas, hal ini biasanya terjadi apabila
air tawar banyak masuk kedalam danau dimusim penghujan. Sedangkan apabila kadar
garam lebih dari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi,
sehingga dapat menetas dengan normal.
Artemia dikenal sebagai pakan utama dalam banyak kegiatan budidaya perairan. Banyak alasan yang menyebabkan Artemia dipilih sebagai pakan, antara lain: kandungan gizi yang tinggi, penyajiannya fleksibel (dari penyajiaan dalam bentuk fresh hingga dalam bentuk olahan lanjutan), setiap stadia dapat dipergunakan sebagi pakan (dari kista hingga tahap dewasa) dan kandungan gizinya dapat dimanipulasi (karena bersifat non-selective particle feeder).
Artemia dikenal sebagai pakan utama dalam banyak kegiatan budidaya perairan. Banyak alasan yang menyebabkan Artemia dipilih sebagai pakan, antara lain: kandungan gizi yang tinggi, penyajiannya fleksibel (dari penyajiaan dalam bentuk fresh hingga dalam bentuk olahan lanjutan), setiap stadia dapat dipergunakan sebagi pakan (dari kista hingga tahap dewasa) dan kandungan gizinya dapat dimanipulasi (karena bersifat non-selective particle feeder).
Artemia termasuk filum Arthropoda, kelas Crustacea, ordo
Anostraca, famili Artemiidae dan genus Artemia (Bougis,1979dalam
Isnansetyo dan Kurniastuty,1995). Berdasarkan reproduksi yang digunakan, Artemia
dibedakan menjadi dua, yaitu biseksual (kawin) dan parthenogenesis (tidak
kawin). Sampai saat ini, dari strain kawin, telah ditentukan 6 jenis Artemia
yang dianggap mempunyai sifat genetik yang sama atau dikenal dengan sibling
species. Spesies tersebut adalah Artemia salina, Artemia
tunisiana, Artemia fransiscana, Artemia monica, Artemia
persimilis, Artemia urmiana (Sorgeloos et al., 1986). Sedangkan
untuk jenis yang tidak kawin, hanya dikenal satu jenis saja yaitu Artemia
parthenogenetica (Mudjiman, 1989).
F. hypofisasi
Hypofisa adalah tehknik pemijahan
buatan dengan menyuntikan cairan kalenjer hypofisa ke dalam tubuh induk ikan
betina yang akan di pijahkan.
Cara
membuat kelenjar hipofisa sebagai berikut :
1.
Menentukan dosis yang akan digunakan dalam proses pemijahan.
2. Menimbang
ikan donor dan ikan resipien .
3. Ikan
donor diletakkan di atas talenan yang tidak licin dan dipotong secara vertikal
dengan titik pemotongan dibagian belakang tutup insangnya hingga kepala ikan
putus atau terpisah dari badannya
4. Kepala
ikan yang terpotong dihadapkan keatas dan disayat dari pangkal hidung ke bawah
bagian potongan pertama hingga tulang tengkorak ikan terbuka dan otak kelihatan
jelas
5. Kemudian
kelenjar otak disingkap/diangkat dan akan tampak kelenjar hipofisa dibawah
kelenjar otak
6. Dengan
menggunakan pinset, kelenjar hipofisa diambil dan diletakkan di dalam cawan
7.
Selanjutnya dibersihkan dengan aquadest hingga kotoran dan darah yang melekat
hilang.
8. Kelenjar
hipofisa dimasukkan ke dalam tabung pengerus. Kelenjar hipofisa digerus menggunakan
lalu kaca hingga hancur
9. Larutan
hipofisa diambil dari gelas pengerus menggunakan alat suntik/spuit Dimasukkan
ke dalam tabung reaksi/tabung sentrifuse
10. Larutan
hipofisa disentrifuse dan didiamkan selama satu menit sampai terbentuk dua lapisan
pada larutan tersebut. Larutan yang agak keruh dibagian atas endapan diambil
dengan jarum suntik
11. Larutan
siap disuntikkan pada ikan yang akan dipijahkan
E. Panen
Waktu yang diperlukan
untuk budidaya ikan nila mulai dari penebaran benih hingga panen mengacu
pada kebutuhan pasar.Ukuran ikan nila untuk pasar domestik berkisar
300-500 gram/ekor.Untuk memelihara ikan nila dari ukuran 10-20 gram hingga
menjadi 300-500 gram dibutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan. Panen ada dua jenis
yaitu, Panen total dan panen selektif.
Panen total adalah panen yang di
lakukan dengan cara memanen keseluruhan ikan. Sedangkan panen selektif adalah
panen yang di lakukan dengan cara memilih ikan yang akan di panen.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hari pertama
Hal yang di ujikan pada hari pertama adalah
pembuatan kakaban dan pemijahan dengan tehknik hypofisasi.
1. Pembuatan
kakaban
Kakaban
adalah alat yang di buat manusia dari bahan ijuk atau tali rafia yang berfungsi
sebagai tempat menempelnya telur pada saat proses pemijahan ikan di kolam. Adapun
alat dan tata cara pembuatan kakaban sebagai berikut.
Alat
:
a. Parang
/ golok
b. Palu
Bahan :
a. Ijuk
b. Tali
rafia
c. 4
bilah bambu
d. Paku
Langkah pertama
pembuatan kakaban adalah, ijuk yang di peroleh dari pohon aren di bersihkan
dari duri agar tidak melukai ikan pada saat pemijahan. Setelah itu bersihkan
bilah bambu yang telah di siapkan lalu susun ijuk di atas bilah bambu dan jepit
dengan bilah bambu yang lain, untuk memperkuat jepitan maka bilah bambu di ikat
dengan tali rafiah dan di paku. Stelah kakaban selesai di buat maka selanjutnya
kakaban di beri pemberat atau pelampung tergantuk sifag nya di dalam air,
apabila kakaban mengambang maka di beri pemberat tapi jika tenggelam maka
kakaban di beri pelampung.Hal tersebut bertujuan untuk menempatkan kakaban pada
kedalaman 10 cm dari permukaan air.

Gambar
1. Pembersihan kakaban
2. Hypofisasi
Hypofisasi
adalah salah satu tehknik pemijahan buatan dengan menggunakan kalenjer
hypofisa.Alat dan bahan yang di gunakan dalam hypofisasi adalah sebagai berikut
:
Alat
:
a. Pisau
b. Pinset
c. Penggerus
d. Centrifuge
e. Gelas
ukur
f. Pipet
g. Alat
suntik
h. Timbangan
mikro dan makro
i.
Talenan
j.
Tabung reaksi
Bahan :
a. Ikan
donor
b. Aquades
/ cairan infus
c. Kapas
d. Tissue
Adapun langkah
langkah langkah nya adalah sebagai berikut, timbang ikan receiven lalu masukkan
ke kolam, timbang juga ikan donor dan masukkan di kolam terpisah.
Ambil kepala ikan donor dengan cara memotong
di antara badan dan kepala, kemudian hadapkan kepala ikan ke atas, belah bagian
belakang ikan, jika otak sudah terlihat maka angkat otak karena kalenjer
hypofisa ada di bawah otak, angkat perlahan kalenjer hypofisa menggunakan
pinset dan letakkan di tissue lalu siramkan cairan aquades / cairan infus untuk
membersihkan sisa darah yang masih menempel. Setelah itu gerus kalenjer hypofisa
dengan menggunakan alat penggerus , setelah halus teteskan cairan aquades /
infus sebanyak 5 cc menggunakan pipet dan msukkan ke dalam tabung untuk di
centrifuge.
Lakukan penyintrifugkan selama 3 menit,
setelah 3 menit angkat dan terlihat 2 lapisan ambik cairan yang bening
menggunakan suntik dan suntikkan pada ikan receivem, cara penyuntikannya adalah
di suntik di bawah sirip pumggung. Kemudian ikan di masukkan ke dalam kolam
pemijahan dengan perbandingan jantan betina 1 : 2, kemudian kolam pemijahan di
beri kakaban. Ini bertujuan untuk tempat menempelnya telur ikan yang telah di
buahi. Waktu yang di butuhkan dalam pemijahan dengan tehknik hypofisa adalah



3. Mengukur
Kualitas air
Setelah semua
proses ujian selesai kemudian di lakukan pengukuran kualitas air, ini bertujuan
untuk mengontrol kualitas air yang ada di kolam. Adapun hasil pengukuran
kualitas ai yang di lakukan pada hari pertama adalah sebagai berikut :
o Suhu
: 30°C
o Do4
– 5
o Ph
: 6,5 – 8

B.
Hari
ke dua
Pada
hari kedua hal yang di ujikan adalah melakukan pembenihan, pendederan dan
panen, tetapi sebelum itu kita terlebih dahulu melakukan pengukuran kualitas
air. Hasil pengukuran kualitas air pada hari ke dua adalah sebagai berikut :
Waktu
|
Do
|
Ph
|
Suhu
|
Pagi
|
4.8
|
6,4
|
29˚C
|
Sore
|
5.7
|
7,8
|
30˚C
|
1. Pembenihan
Setelah
pengukuran kemudian di lanjut dengan pengecekan warna air yang telah di pupuk
pada hari pertama. Hasilnya adalah air mengalami perubahan warna dari hijau
cerah ke hijau kecoklatan, hal ini menandakan
bahwa plankton sudah tumbuh dan kolam siap di tebar benih. Sebelum
penebaran benih kita harus menentukan padat tebar benih yang akan di gunakan,
caranya adalah sebagai berikut :
Setelah padat
tebar di tentukan maka di lakukan penebaran, sebelum di tebar seluruhnya, benih
harus di aklimatisasi, tujuannya agar ikan dapat menyesuaikan suhu dalam kolam.
Sehingga ikan tidak stress karena perubahan suhu yang drastis.
2. Pendederan
Pendederan
adalah proses pemeliharaan lanjutan dari pembenihan. Cara melakukan pendederan
kurang lebih seperti pembenihan, yang berbeda hanya padat tebar yang digunakan.
Cara menghitung padat tebar pendederan adalah sebagai berikut :
3. Panen
Panen merupakan
puncak dari kegiatan budidaya. Setelah benih telah mencapai ukuran yang di
targetkan, maka proses yang di lakukan adalah pemanenan. Bahan yang di gunakan
dalam proses panen adalah sebagai berikut :
a. Bahan
o Kantong
plastik
o Oksigen
o Karet
gelang
Pertama tama
kantong di isi dengan air dan ikan yang akan di panen, kemudian di isi oksigen
dengan perbandingan air dan oksigen 1:1. Setelah penuh putar putar kantong
plastic dan ikat dengan karet gelang untuk mencegah air dan oksigen keluar.

DAFTAR
PUSTAKA
Anonim,
2009, Biologi Ikan Nilah dan Kelafikasi
Ikan Nila http://www.scribd.com (diakses pada hari kamis tanggal 1 juni
2010).
Amri, Khairul, Ir, M.Si, 2009. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif.
gromedia Jakarta. 1, 17, 18, 19, 20, dan 21 hal.
Carman, O dan Sucipto, A, 2009.Panen Nila 2,5 Bulan.Penebar Suadaya
Jakarta.5 & 6 hal.
Hasan, I.
2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.Ghalia
Indonesia. Jakarta. hal. 260.
Kemal, Prihatman, 2000. Budidaya Ikan Nilahttp://www.ristek.go.id (diakses pada tanggal 27 juli 2010). Hal 14 dan 15
Murtidjo,
A, B, 2001.Beberpa Metode Pembenihan
ikan Air Tawar.Jl. Cempaka 9, Yogyakarta. Hal 67.
Susanto, Heru, 2007. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penbar
Swadaya Jakarta.hal. 36, 37, dan 38
Tim Karya Tani Mandiri, 2009. Pedoman Budidaya Ikan Nila. Bandung
Nuansa Aulia JL. Permai 28 No. 99 hal 2,
3, 4, dan 22.



Komentar
Posting Komentar