contoh kasus pemilihan lokasi pelabuhan perikanan
BAB I
Pendahuluan
Pembangunan pelabuhan memakan biaya yang sangat besar. Oleh
karena itu diperlukan suatu perhitungan dan pertimbangan yang masak untuk
memutuskan pembangunan suatu pelabuhan. Keputusan pembangunan pelabuhan
biasanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ekonomi, politik dan teknis.
Ketiga dasar pertimbangan tersebut saling berkaitan, tetapi biasanya yang
paling menentukan adalah pertimbangan ekonomi.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan
didalam pembangunan suatu pelabuhan adalah kebutuhan akan pelabuhan dan
pertimbangan ekonomi, volume perdagangan melalui laut, dan adanya hubungan
dengan daerah pedalaman baik melalui darat maupun air.
Kebutuhan akan pelabuhan timbul untuk memenuhi beberapa
hal berikut ini :
1) Pembangunan
pelabuhan yang didasarkan pada pertimbangan politik. Sebagai contoh adalah
pelabuhan militer yang diperlukan untuk mendukung keamanan suatu Negara,
misalnya pelabuhan Ujung di Surabaya sebagai pangkalan angkatan laut. demikian
juga pelabuhan perintis yang dibangun untuk membuka hubungan ekonomi dan sosial
daerah yang terpencil.
2) Pembangunan suatu
pelabuhan diperlukan untuk melayani/meningkatkan kegiatan ekonomi daerah
dibelakangnya dan untuk menunjang kelancaran perdagangan antar pulau maupun
Negara (eksport, import). Pelabuhan ini banyak mendukung perkembangan kota
didekatnya dan daerah belakang.
3) Untuk
mendukung kelancaran produksi suatu perusahaan/pabrik, sering diperlukan
suatu pelabuhan khusus. Pelabuhan ini akan melayani pemasaran/pengiriman hasil
produksi ataupun untuk mendatangkan bahan baku pabrik tersebut. Sebagai contoh
adalah pelabuhan kuala tanjung milik PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) di
sumatera utara, sebagai prasarana untuk mengimpor biji bauksit dan
pemasaran/pengiriman aluminium hasil produksi perusahaan tersebut. Mengingat
sifatnya sebagai pendukung dari proyek utama, maka pertimbangan ekonomis tidak
seketat seperti dalam pembangunan pelabuhan umum.
Sebelum
memulai pembangunan pelabuhan umum harus dilakukan survey dan studi untuk
mengetahui volume perdagangan baik pada saat pembangunan maupun di masa
mendatang yang dapat di antisipasi dari daerah disekitarnya. Volume perdagangan
ini penting untuk menentukan layak tidaknya pelabuhan tersebut dibangun, pada
pelabuhan khusus, produksi dari suatu perusahaan biasanya sudah diketahui,
sehingga pelabuhan dapat direncanakan untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Setelah
beberapa studi diatas dilakukan, selanjutnya ditetapkan lokasi secara umum
pelabuhan, fungsi utama pelabuhan, dan jenis serta volume barang yang dilayani.
Langkah berikutnya adalah membuat studi pendahuluan dan layout pelabuhan dalam
persiapan untuk membuat penyelidikan lapangan yang lebih lengkap yang
diperlukan di dalam pembuatan perencanaan akhir pelabuhan. Beberapa
penyelidikan yang perlu dilakukan adalah survey hidrografi, dan topografi;
penyelidikan tanah di rencana lokasi pemecah gelombang, dermaga, dan
bangunan-bangunan pelabuhan lainnya; angin, arus, pasang surut dan gelombang.
Perencanaan
pelabuhan harus memperhatikan berbagai faktor yang akan berpengaruh pada
bangunan-bangunan pelabuhan dan kapal-kapal yang berlabuh. Ada tiga faktor yang
harus diperhitungkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu angin,
pasang surut, dan gelombang. Angin menimbulkan arus dan gelombang.
Angin juga dapat menimbulkan tekanan pada kapal dan bangunan pelabuhan. Pasang
surut adalah penting di dalam menentukan dimensi bangunan seperti pemecah
gelombang, dermaga, pelampung penambat, kedalaman alur pelayaran, perairan
pelabuhan dan sebagainya. Gelombang yang menyerang bangunan pantai akan
menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan tersebut. Bangunan harus tetap
aman terhadap gaya gelombang yang bekerja padanya. Selain itu gelombang juga
akan berpengaruh pada ketenangan di perairan pelabuhan.
BAB
II
Persyaratan dan Perlengkapan Pelabuhan
Kapal laut diusahakan oleh suatu
perusahaan pelayaran untuk mengangkut barang dan atau penumpang. Keuntungan
yang diperoleh perusahaan tersebut tergantung banyak faktor seperti
banyak/sedikitnya barang dan penumpang yang diangkut, waktu pelayaran kapal,
waktu singgah di pelabuhan, dan sebagainya.
Kapal yang berada di pelabuhan harus membayar biaya jasa
pelabuhan, yang meliputi biaya labuh, tambat, air, pandu, tunda, dermaga, dsb.
Berbagai kegiatan yang ada di pelabuhan antara lain melakukan bongkar muat
barang, menaik-turunkan penumpang, penyelesaian surat-surat administrasi,
pengisian bahan bakar, reparasi, penyediaan perbekalan dan air bersih, dsb.
Untuk bisa memberi pelayanan yang baik dan cepat, maka
pelabuhan harus bisa memenuhi beberapa persyaratan berikut ini :
1) Harus ada hubungan
yang mudah antara transportasi air dan darat seperti jalan raya dan kereta api,
sedemikian sehingga barang-barang dapat diangkut ke dan dari pelabuhan dengan
mudah dan cepat.
2) Pelabuhan berada
di suatu lokasi yang mempunyai daerah belakang (daerah pengaruh) subur dengan
populasi penduduk yang cukup padat.
3)
Pelabuhan harus mempunyai kedalaman air dan lebar alur yang cukup.
4)
Kapal-kapal yang mencapai pelabuhan harus bisa membuang sauh selama menunggu
untuk merapat ke dermaga guna bongkar muat barang atau mengisi bahan bakar.
5)
Pelabuhan harus mempunyai fasilitas bongkar muat barang (kran, dsb) dan gudang-gudang
penyimpanan barang.
6) Pelabuhan harus
mempunyai fasilitas untuk mereparasi kapal-kapal.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut pada umumnya pelabuhan
mempunyai bangunan-bangunan.
1)
Pemecah gelombang, yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan
dari gangguan gelombang. Gelombang besar yang datang dari laut lepas akan
dihalangi oleh bangunan ini. Apabila daerah perairan sudah terlindung secara
alamiah, maka tidak diperlukan pemecah gelombang.
2) Alur pelayaran, yang berfungsi untuk
mengarahkan kapal-kapal yang akan keluar/masuk ke pelabuhan. Alur pelayaran
harus mempunyai kedalaman dan lebar yang cukup untuk bisa dilalui kapal-kapal
yang menggunakan pelabuhan. Apabila laut dangkal maka harus dilakukan
pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang diperlukan.
3) Kolam pelabuhan,
merupakan daerah perairan dimana kapal berlabuh untuk melakukan bongkar muat,
melakukan gerakan untuk memutar (di kolam putar), dsb. Kolam pelabuhan harus
terlindung dari gangguan gelombang dan mempunyai kedalaman yang cukup.
4) Dermaga, adalah
bangunan pelabuhan yang di gunakan untuk merapatnya kapal dan menambatkannya
pada waktu bongkar muat barang. Ada dua macam dermaga yaitu yang berada di
garis pantai dan sejajar dengan pantai yang disebut quai atau wharf;
dan yang menjorok (tegak lurus) pantai disebut pier. Pada pelabuhan
barang dibelakang dermaga harus terdapat halaman yang cukup luas untuk
menempatkan barang-barang selama menunggu pengapalan atau angkutan ke darat.
Dermaga ini juga dilengkapi dengan kran untuk mengangkut barang dari dan ke
kapal.
5) Alat penambat,
digunakan untuk menambatkan kapal pada waktu merapat di dermaga maupun menunggu
di perairan sebelum bisa merapat ke dermaga. Alat penambat bisa diletakkan di
dermaga atau di perairan yang berupa pelampung penambat. Pelampung penambat
ditempatkan di dalam dan di luar perairan pelabuhan. Bentuk lain dari pelampung
penambat adalah dolphin yang terbuat dari tiang-tiang yang dipancang dan
dilengkapi dengan alat penambat.
6)
Gudang, yang terletak di belakang dermaga untuk menyimpan barang-barang yang
harus menunggu pengapalan.
7)
Gedung terminal untuk keperluan administrasi.
8)
Fasilitas bahan bakar untuk kapal.
9)
Fasilitas pandu kapal, kapal tunda dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk
membawa kapal masuk/keluar pelabuhan. Untuk kapal-kapal besar, keluar/masuknya
kapal dari/ke pelabuhan tidak boleh dengan kekuatan (mesin) nya sendiri, sebab
perputaran baling-baling kapal dapat menimbulkan gelombang yang akan mengganggu
kapal-kapal yang sedang melakukan bongkar muat barang. Untuk itu kapal harus di
tarik oleh kapal tunda, yaitu kapal kecil bertenaga besar yang dirancang khusus
untuk menunda kapal.
10)
Peralatan bongkar muat barang seperti kran darat, kran apung, kendaraan untuk
mengangkut/memindahkan barang seperti forklift.
11)
Fasilitas-fasilitas lain untuk keperluan penumpang, anak buah kapal dan muatan
kapal seperti dokter pelabuhan, karantina, bea cukai, imigrasi, keamanan, dsb.
BAB
III
Pemilihan Lokasi Pelabuhan
Pemilihan lokasi untuk membangun
pelabuhan meliputi daerah pantai dan daratan. Pemilihan lokasi tergantung pada
beberapa faktor seperti kondisi tanah dan geologi, kedalaman dan luas daerah
perairan, perlindungan pelabuhan terhadap gelombang, arus dan sedimentasi,
daerah daratan yang cukup luas untuk menampung barang yang akan di bongkar
muat, jalan-jalan untuk transportasi, dan daerah industri di belakangnya.
Tetapi biasanya faktor-faktor tersebut tidak bisa semuanya terpenuhi, sehingga
diperlukan suatu kompromi untuk mendapatkan hasil optimal.
Berbagai faktor
yang mempengaruhi penentuan lokasi pelabuhan adalah sebagai berikut :
1)
Biaya pembangunan dan perawatan bangunan-bangunan pelabuhan, termasuk
pengerukan pertama yang harus dilakukan.
2)
Biaya operasi dan pemeliharaan, terutama pengerukan endapan di alur dan kolam
pelabuhan.
3) Kondisi lapangan, yaitu kondisi spesifik
alam yang ada seperti topografi, gelombang, angin,
pasang surut, kondisi
tanah dan sebagainya.
Tinjauan topografi
Keadaan topografi daratan dan bawah
laut harus memungkinkan untuk membangun suatu pelabuhan dan kemungkinan untuk
pengembangan di masa mendatang. Daerah daratan harus cukup luas untuk membangun
suatu fasilitas pelabuhan seperti dermaga, jalan, gudang dan juga daerah
industri. Apabila daerah daratan sempit maka pantai harus cukup luas dan
dangkal untuk kemungkinan perluasan daratan dengan melakukan penimbunan pantai
tersebut.
Tinjauan
sedimentasi
Pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang cukup bagi
pelayaran di daerah perairan pelabuhan memerlukan biaya yang cukup besar. Pengerukan ini
dapat dilakukan pada waktu membangun pelabuhan maupun selama perawatan.
Pengerukan selama perawatan harus sedikit mungkin.
Pelabuhan harus dibuat sedemikian rupa
sehingga sedimentasi yang terjadi harus sesedikit mungkin (kalau bisa tidak
ada). Untuk itu di dalam perencanaan pelabuhan harus ditinjau permasalahan
sedimentasi. Proses sedimentasi ini sulit ditanggulangi, oleh karena itu
masalah ini harus diteliti dengan baik untuk dapat memprediksi resiko
pengendapan. Sedimen yang ada pada daerah pantai bisa berupa pasir atau sedimen
suspensi. Sedimen suspensi biasanya berasal dari sungai-sungai yang bermuara di
pantai.
Tinjauan gelombang dan arus
Gelombang menimbulkan gaya-gaya yang
bekerja pada kapal dan bangunan pelabuhan. Untuk menghindari gangguan gelombang
terhadap kapal yang berlabuh maka dibuat bangunan pelindung yang disebut
pemecah gelombang.
Di dalam tinjauan pelayaran, diharapkan
bahwa kapal-kapal dapat masuk ke pelabuhan menurut alur pelayaran lurus (tanpa
membelok) dan alur tersebut harus searah dengan arah penjalaran gelombang
terbesar dan arah arus. Suatu mulut pelabuhan yang besar akan memudahkan kapal
memasuki pelabuhan.
Akan tetapi pada umumnya
persyaratan-persyaratan untuk kemudahan pelayaran tidak bisa semuanya dipenuhi.
Mulut pelabuhan yang besar dan menghadap arah datangnya gelombang akan
menyebabkan masuknya energi gelombang yang besar ke pelabuhan, sehingga
mengganggu kapal yang sedang bongkar muat barang. Demikian juga mulut pelabuhan
yang menghadap arah arus akan menyebabkan sedimentasi di pelabuhan.
Tinjauan kedalaman air
Kedalaman laut sangat berpengaruh pada
perencanaan pelabuhan. Di laut yang mengalami pasang surut variasi muka air
kadang-kadang cukup besar. Menurut pengalaman, tinggi pasang surut yang kurang
dari 5 m masih dapat dibuat pelabuhan terbuka. Bila lebih dari 5 m,
maka terpaksa dibuat suatu pelabuhan tertutup yang dilengkapi dengan pintu air
untuk memasukkan dan mengeluarkan kapal. Di sebagian besar perairan Indonesia,
tinggi pasang surut tidak lebih dari 2 m sehingga digunakan pelabuhan
terbuka.
Untuk pelayaran, kapal-kapal memerlukan
kedalaman air yang sama dengan sarat (draft) kapal ditambah dengan suatu
kedalaman tambahan. Kedalaman air untuk pelabuhan didasarkan pada frekuensi
kapal-kapal dengan ukuran tertentu yang masuk ke pelabuhan. Jika kapal-kapal
terbesar masuk ke pelabuhan hanya satu kali dalam beberapa hari, maka kapal
tersebut hanya boleh masuk pda waktu air pasang. Sedang kapal-kapal kecil harus
dapat masuk ke pelabuhan pada setiap saat.
BAB IV
Ukuran dan Bentuk Pelabuhan
Ukuran pelabuhan ditentukan oleh jumlah
dan ukuran kapal-kapal yang akan menggunakannya serta kondisi lapangan yang
ada. Ditinjau dari segi biaya, ukuran pelabuhan harus sekecil mungkin, tetapi
masih memungkinkan pengoperasian yang mudah. Pemakaian kapal tunda untuk
membantu gerak kapal di dermaga juga berpengaruh pada ukuran pelabuhan. Luas
minimum pelabuhan adalah ruang yang diperlukan untuk dermaga ditambah dengan
kolam putar (turning basin) yang terletak didepannya. Ukuran kolam putar
tergantung pada ukuran kapal dan kemudahan gerak berputar kapal, yang dapat
dibedakan dalam empat macam.
1) Ukuran ruang
optimum untuk dapat berputar dengan mudah memerlukan diameter empat kali
panjang kapal yang menggunakannya.
2) Ukuran menengah
ruang putar dengan sedikit kesulitan dalam berputar mempunyai diameter dua kali
dari panjang kapal terbesar yang menggunakannya. Gerak putaran akan lebih lama
dan dapat dilakukan oleh kapal dan bantuan kapal tunda.
3) Ruang putaran
kecil yang mempunyai diameter kurang dari dua kali panjang kapal. Gerakan
berputar dapat dilakukan dengan menggunakan jangkar dan bantuan kapal tunda.
4) Ukuran minimum
ruang putaran harus mempunyai diameter 20 % lebih panjang dari panjang kapal
terbesar yang menggunakannya. Dalam hal ini untuk membantu perputaran, kapal
harus ditambatkan pada suatu titik tetap, misalnya dengan pelampung, dermaga,
atau jangkar.
pelabuhan dengan dermaga (pier) tunggal
dan kolam putar serta alur pendekatan yang panjang dan diperlebar pada ujung
dekat pantai untuk memungkinkan gerak berputarnya kapal. Gambar tersebut menunjukkan bahwa
pelabuhan tersebut memerlukan ruang minimum dan dapat menampung dua kapal.
Pelabuhan ini dibuat dengan mengeruk alur pada air dangkal. Pelabuhan
terlindung secara alam oleh suatu pulau, sehingga tidak memerlukan pemecah
gelombang. Di pelabuhan ini kapal yang akan meninggalkan dermaga harus membelok
sendiri terhadap ujung pier dan kemudian meninggalkan pelabuhan melalui alur
pendekatan.
dalam hal ini angin dan gelombang mempunyai satu arah, dan
ketenangan air di pelabuhan diperoleh dengan membuat satu pemecah gelombang
yang bermula dari garis pantai dan kemudian membelok sejajar pantai. Kedalaman
air bertambah dengan cepat dari garis pantai, sehingga lebar pelabuhan dapat
dibatasi. Pemecah gelombang dimanfaatkan sebagai dermaga yang dapat digunakan
oleh dua buah kapal. Kapal berputar dengan menggunakan bantuan dolphin.
bentuk pelabuhan yang panjang dan sempit dengan mulut masuk
pelabuhan di satu ujung dan mulut keluar pada ujung lain. Dermaga dapat
digunakan untuk berlabuh empat kapal. Di dekat pemecah gelombang yang sejajar
pantai dilengkapi dengan alat penambat yang digunakan sebagai tempat tunggu
selama dermaga masih digunakan.
bentuk pelabuhan dengan daerah perairan dilindungi oleh dua
buah pemecah gelombang dengan satu mulut, sejumlah dermaga dan kolam putar
besar berbentuk lingkaran dengan jari-jari sama dengan dua kali panjang kapal
terbesar. Pelabuhan ini juga dilengkapi dengan tempat penungguan sebelum kapal
mendapat giliran merapat di dermaga. Selain itu juga terdapat tempat untuk
kapal-kapal kecil.
Pemecah Gelombang
Pemecah gelombang yang digunakan untuk melindungi daerah
perairan pelabuhan semi alam dan buatan. Lay out pemecah gelombang
tergantung pada arah gelombang dominan, bentuk garis pantai, ukuran minimum
pelabuhan yang diperlukan untuk melayani trafik di pelabuhan tersebut. Pemecah
gelombang bisa berupa dua lengan yang menjorok ke laut dari garis pantai dan
sebuah pemecah gelombang yang sejajar pantai dan dilengkapi dengan dua mulut
untuk masuk dan keluarnya kapal. bentuk lain adalah satu lengan pemecah gelombang yang
berawal dari pantai menuju ke laut yang kemudian membelok dan sejajar pantai. Di sini terdapat satu mulut, dan
digunakan apabila angin dan gelombang berasal dari satu arah. Pemecah gelombang
bisa pula terdiri dua lengan yang menjorok ke laut dari garis pantai dengan
kedua lengan tersebut konvergen dan membentuk suatu celah di laut untuk jalan
masuk dan keluar kapal.
a. Kegiatan kapal dalam membongkar muatan dalam kolam yang aman terhadap gelombang.
b. Melindungi alur pelayaran dan kolam pelabuhan dari pendangkalan air laut.
c. Penempatan arah bangunan pemecah gelombang
mempertimbangkan arah datangnya gelombang dan perubahannya.
d. Pemecah gelombang harus
mampu menahan gelombang yang signifikan
e. Tipe kontruksi mempertimbangkan kemudahan pelaksanaan, ketersediaan bahan dan harga.
Breakwater ini direncanakan untuk melindungi kolam
Pelabuhan Perikanan Samudra
(PPS) Cilacap dari gelombang dominan. Untuk itu di desain memenuhi kriteria fungsional sebagai berikut
:
a. Kerusakan
maksimum yang diijinkan
sebesar 10% selama
umur rencana
breakwater.
b. Tidak diperkenankan terjadi limpasan (overtopping) pada puncak breakwater selama umur
rencana kontruksi
Lokasi dan Lebar Mulut Pelabuhan
Untuk mengurangi tinggi gelombang di perairan pelabuhan,
mulut pelabuhan tidak boleh lebih besar dari yang diperlukan untuk keamanan
pelayaran atau arus berbahaya yang ditimbulkan oleh pasang surut. Lebar mulut
pelabuhan tergantung pada ukuran pelabuhan dan kapal-kapal yang menggunakan
pelabuhan. Biasanya untuk pelabuhan kecil lebar mulut pelabuhan adalah 100 m,
pelabuhan sedang antara 100 m dan 160 m, dan untuk pelabuhan
besar adalah 160 m sampai 260 m. apabila mulut berada diantara
pemecah gelombang dengan sisi miring maka lebarnya diukur pada air rendah,
yaitu sama dengan lebar yang diperlukan ditambah dengan lebar karena kemiringan
sisi bangunan pada kedalaman tersebut. Misalnya jika lebar mulut adalah 150 m
dan mulut tersebut berada diantara pemecah gelombang dengan kemiringan 1 : 3,
maka untuk pelabuhan dengan kedalaman 10 m, lebar pada muka air rendah
adalah 210 m.
Gelombang dari laut dalam akan masuk ke
pelabuhan melalui mulut pelabuhan. Dalam perjalanannya masuk ke pelabuhan,
tinggi gelombang berkurang secara berangsur-angsur karena adanya proses
difraksi, yaitu menyebarnya energi gelombang ke seluruh lebar daerah perairan
pelabuhan. Tinggi
gelombang di kolam pelabuhan dapat dihitung dengan rumus Stevenson. Rumus
tersebut hanya memberikan hasil perkiraan. Untuk mendapatkan gambaran yang
lebih jelas dari kondisi gelombang di kolam pelabuhan diperlukan tes model
hidraulis.
1.6.
Lokasi dan Lebar Mulut Pelabuhan
Untuk mengurangi tinggi gelombang di perairan pelabuhan,
mulut pelabuhan tidak boleh lebih besar dari yang diperlukan untuk keamanan
pelayaran atau arus berbahaya yang ditimbulkan oleh pasang surut. Lebar mulut
pelabuhan tergantung pada ukuran pelabuhan dan kapal-kapal yang menggunakan
pelabuhan. Biasanya untuk pelabuhan kecil lebar mulut pelabuhan adalah 100 m,
pelabuhan sedang antara 100 m dan 160 m, dan untuk pelabuhan
besar adalah 160 m sampai 260 m. apabila mulut berada diantara
pemecah gelombang dengan sisi miring maka lebarnya diukur pada air rendah,
yaitu sama dengan lebar yang diperlukan ditambah dengan lebar karena kemiringan
sisi bangunan pada kedalaman tersebut. Misalnya jika lebar mulut adalah 150 m
dan mulut tersebut berada diantara pemecah gelombang dengan kemiringan 1 : 3,
maka untuk pelabuhan dengan kedalaman 10 m, lebar pada muka air rendah
adalah 210 m.
Gelombang dari laut dalam akan masuk ke
pelabuhan melalui mulut pelabuhan. Dalam perjalanannya masuk ke pelabuhan,
tinggi gelombang berkurang secara berangsur-angsur karena adanya proses
difraksi, yaitu menyebarnya energi gelombang ke seluruh lebar daerah perairan
pelabuhan. Tinggi
gelombang di kolam pelabuhan dapat dihitung dengan rumus Stevenson. Rumus
tersebut hanya memberikan hasil perkiraan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih
jelas dari kondisi gelombang di kolam pelabuhan diperlukan tes model hidraulis.
BAB
V
Peta
wilayah
DAFTAR PUSTAKA
Id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan
Hutabarat, Nia. 2011. Pelabuhan Perikanan. http://nilahutabarat.blogspot.com.
Diakses tanggal 14-04-2012 pukul 12:09
Prima, Andika. 2009. Pelabuhan
perikanan Indonesia. http://andikaprima.wordpress.com. Diakses tanggal 14-04-2012 pukul 12:11
Dachosta, John. 2009. Profil
Pelabuhan Perikanan Indonesia-Nautika Perikanan Laut. http://john-doank.blogspot.com.
Diakses tanggal 14-04-2012 pukul 11:43








Komentar
Posting Komentar