Bissu dalam kebudayaan Bugis
Hubungan Islam dengan Angka 12
Dikisahkan bahwa Batara Guru ketika turun ke bumi dari dunia atas (Botinglangik) bertemu dengan We Nyili Timo yang berasal dari dunia bawah (Borikliung) yang kemudian menjadi permaisurinya. Batara Guru yang mendapat tugas dari Dewata mengatur bumi rupanya tidak mempunyai kemampuan manajerial yang handal, karenanya diperlukan Bissu dari Botinglangik untuk mengatur segala sesuatu mengenai kehidupan. Ketika Bissu ini turun ke bumi, maka terciptalah pranata-pranata masyarakat Bugis melalui daya kreasi mereka, menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat dan semua hal yangdiperlukan untuk menjalankan kehidupan di bumi. Melalui perantara Bissu inilah, para manusia biasa dapat berkomunikasi dengan para dewata yang bersemayam di langit
Dalam struktur budaya Bugis, peran Bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/ langit (Basa Torilangi), karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno: Sure’ La Galigo. Apabila Sure’ ini hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah Bissu mengucapkan pujaan danmeminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan Sure’ itu. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan (Indo’ Botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.
Keberadaan bissu disetiap daerah sangat berbeda jumlahnya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain di Bone 40 orang, Soppeng 8 orang, Pangkep 22 orang, dan Wajo 12 orang, dan tak adapun satu riwayat yang menjelaskan tingkat variasi tersebut
Di sini kita tidak membahas masalah kontroversi Bissu berkenaan gendernya dari sudut pandang Islam. Namun perlu diingatkan bahwa metode asimilasi yang ditempuh oleh para ulama Syiah lebih mengedepankan penanaman nilai-nilai ajaran Syiah pada setiap bentuk kebudayaan yang ada pada masyarakat setempat daripada harus bersitegang untuk menghilangkanny a. Walhasil, nyaris semua suku di Sulawesi menerima bahwa Bissu bagian dari sejarah masyarakatnya.
Namun aneh karena ada perbedaan jumlah anggota Bissu di setiap daerah; di Bone 40 orang, Soppeng 8 orang, Pangkep 22 orang, dan Wajo 12 orang.
apakah ini secara kebetulan atau bagaimana srehingga wajo mempunyai bissu sebanyak 12 orang .....
Hal ini bukanlah suatu kebetulan jika Wajo yang merupakan tempat pusat pengajaran Sayyid Jamaluddin al Husaini atau pun pengikutnya menanamkan pengaruh jumlah 12 sebagaimana jumlah khalifah setelah Rasulullah dalam pemahaman Syiah Persia.
Secara tradisional keyakinan dua belas (12) Imam bagi muslim Persia (Syiah) menganggap Ali bin Abi Thalib dan sebelas para imam berikutnya tidak hanya membimbing umat manusia pada nilai-nilai dan ajaran agama yang benar tetapi tetapi ia juga berhak atas kepemimpinan politik, berdasarkan sebuah hadis penting NabiMuhammad saw. Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79.
Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al- Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:”Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.”
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Akumendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’
Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’.” Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw membatasi jumlah para Imam setelahnya sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s. Dalam Al-Quran ada sejumlah ayat yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut: Al-Baqarah: 124, Hud: 17, Al-Furqan: 74, Al-Ahqaf: 12, Al-Hijr: 79, Yasin: 12, AI-Isra: 17, At-Taubah: 12, AI-Anbia: 73, Al-Qashash: 5, Al-Qashash:41, dan As-Sajadah:24.
Dari sure La Galigo sendiri sebagai referensi utama sejarah purba suku Bugis, membuktikan bahwa justru kehadiran Bissu dianggap sebagai pengiring lestarinya tradisi keilahian/ religiusitas nenek moyang. Di masa lalu berdasarkan sastra klasik Bugis epos La Galigo, sejak zaman Sawerigading, peran Bissu sangat sentral, bahkan dikatakan sebagai mahluk suci yang memberi stimulus ‘perahu cinta’ bagi Sawerigading dalam upayanya mencari pasangan jiwanya; We Cudai.
Di tengah kegundahan Sawerigading yang walau sakti mandraguna tapi tak mampu menebang satu pohon pun untuk membuat kapal raksasa. Wellerrengge, Bissu We Sawwammegga tampil dengan kekuatan sucinya yang diperoleh karena ambivalensinya; lelaki sekaligus perempuan,manus ia sekaligus Dewa. Dengan posisi dan peran sentral Bissu yang demikian besarnya maka secara antropologis akan membawa sebuah pemahaman pada masyarakat bahwa secara sosiologis dalam bangunan masyarakat meniscayakan sebuah struktur manusia dengan kualitas yang sedemikian sempurna. Dalam konsep teologis ajaran Syiah disebut dengan hak wilayah yang diberikan pada Ahlul Bait Nabi.
Jurnal Al-Qurba
Komentar
Posting Komentar